The Losts Souls~Cerpen
Aku memasuki aula berukuran 7x7 meter yang bernuansa woody ini dengan canggung. Ruangan itu sunyi dan senyap. Di tengah ruangan itu terdapat bangku-bangku kayu yang disusun melingkar. Beberapa bangku telah terisi oleh manusia-manusia yang sibuk dengan ponsel di hadapan masing-masing. Sekilas, aku menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan. Ada gadis berambut pendek berwajah blasteran Asia, gadis blasteran Saudi Arabia, seorang anak laki-laki berusia sekitar 15 tahun yang tidak bisa lepas dari i-Padnya, dan seorang anak laki-laki beralis tebal memakai jaket hoodie yang bisa dibilang cukup tampan untuk ukuran remaja di Rustic City.
Aku menyesali keputusanku untuk datang ke klub ini. Minggu lalu aku dan Rose sepupuku, bermain Truth or Dare dan aku memilih dare tanpa menimbang risikonya. Rose bisa menjadi sangat kreatif sekaligus menyebalkan dalam hal-hal seperti ini. Dengan entengnya Rose mendaftarkanku ke acara Life Rewind 2020 yang diadakan The Losts Souls, komunitas sosial di kota kecil kami, Rustic City. Aku terkesiap ketika melihat poster iklan acara itu di Instagram. Kira-kira headline acara itu seperti ini:
The Losts Souls dengan senang hati mempersembahkan: Life Rewind 2020.
Sebuah acara untuk kalian yang kesepian & tak punya rencana malam tahun baru.
“Rose! Apa kau gila? Acara ini seperti lelucon akhir tahun yang nampaknya terlalu lucu untuk dilewatkan. Siapa yang akan datang ke acara menyedihkan ini di tanggal 31 Desember?”
Aku bisa saja tidak hadir, tidak ada hukuman atau konsekuensi serius yang harus ditanggung. It’s just a silly game. Namun, kata-kata yang saat itu dilontarkan Rose dengan sangat serius selalu menghantuiku. Membuatku tergelitik untuk melangkahkan kaki ke sini.
”Dunia ini luas dan penuh warna, Lily. Tidak hanya keluargamu saja di dalamnya. Sudah cukup selama ini kau menyibukkan diri dengan urusan rumah dan keluargamu. You need to be there, I … I mean, make some friends and see the world out there.”
Jadi, di sinilah aku. Di tengah-tengah strangers yang bahkan tidak berusaha untuk membuat suasana menjadi less strange. Satu per satu bangku mulai terisi. Sebagian dari mereka mulai berinteraksi dengan kanan-kiri nya. Seandainya Rose ada di sini, mungkin ia akan mulai membicarakan drama korea dengan si blasteran Asia, atau berbagi must-try-list kuliner Timur Tengah dengan si Arab. Entahlah, Rose selalu berhasil menghidupkan suasana dengan segudang caranya. Namun, kini hanya ada aku. Si kaku yang pendiam dan pemalu.
“Selamat datang, semuanya!” Ryan, si empunya klub ini sekaligus pemandu acara datang ke tengah ruangan dan memecah keheningan. Ia tersenyum menyapukan pandangan ke arah kami semua.
“Oh, wow! Aku sama sekali tidak menyangka hampir semua yang datang adalah remaja. Ada apa dengan para remaja di Rustic City? Kukira sekarang seharusnya mereka sedang bersama teman-teman mereka, hang out di pop bar atau berkencan dengan pacar kalian di coffee house ditemani segelas cokelat panas sambil menunggu malam tahun baru. Apa yang terjadi dengan kalian semua?”
“We’re all the dumped teens,” jawab salah seorang gadis negro berambut keriting.
Ryan menanggapi jawaban gadis itu dengan tersenyum kemudian ia mulai memasuki inti acara. Belum apa-apa aku sudah merasa kikuk. Aku tidak biasa berada di tengah banyak orang seperti ini. Aku hanya menangkap beberapa perkataan Ryan dengan samar-samar. Entah apa yang dikatakan Ryan saat itu, aku tidak terlalu mempedulikannya. Tiba-tiba …
“Baiklah, kita akan mulai dari… Anda.” Ryan menunjuk si Arab. What? Mulai apa? Ryan melanjtkan, “Tolong ceritakan pada kami latar belakang Anda sceara singkat dan apa yang telah kamu capai di 2020.” Shit! Aku memaki dalam hati.
Walaupun saat ini angka kasus Covid-19 di Rustic City sudah tidak ada, tetapi pemerintah kota tetap mewajibkan kami menggunakan masker. Si Arab pun menurunkan maskernya dan mulai bersuara, “Namaku Sarah Lashita. Tahun ini, aku berhasil mendapatkan beasiswa kuliah manajemen perhotelan dan kedepannya aku berencana untuk .…”
Aku tersenyum sinis. Hatiku terasa sakit. Aku akan mempermalukan diri sendiri di sini. Tentu saja mudah bagi seseorang untuk menceritakan pencapaian mereka pada orang lain. Mereka memang punya sesuatu untuk dibanggakan. Sementara aku? Beberapa menit berikutnya terasa seperti potongan film yang berjalan begitu cepat. Aku tidak benar-benar peduli dengan cerita orang-orang di sekelilingku. Aku menunduk, sibuk memikirkan apa yang akan kukatakan saat giliranku tiba nanti.
“Aku Nataya Hana. Tahun ini aku terpilih menjadi brand ambassador suatu brand kecantikan di Rustic City …. ” Oh, kini giliran si Asia rupanya.
“Mendirikan bisnis online kuliner kecil-kecilan bersama kakakku. Omzet kami naik 10x lipat dari awal kami mendirikan bisnis ini .…” seorang gadis berambut emas berkata.
“I’m Eric. Tahun ini aku memenangkan e-sport championship. I got first place and .…” si anak yang memacari i-Padnya itu mulai bercerita perjalanannya di kejuaraan e-sport tersebut.
“Hey, everyone. I’m Josh. Tidak ada yang bisa kubanggakan untuk diceritakan. That’s all.” Kata-kata yang diucapkan dengan dingin itu menarik perhatianku. Aku mendengakkan kepala. Siapa tadi yang berbicara? Ah, rupanya laki-laki yang tampan dan beralis tebal dan memakai hoodie itu. Perkataannya terasa sama situasiku saat ini. Dengan bodoh dan sok beraninya, aku mengangkat tangan. “May I?” aku bertanya pada Ryan.
“Yes, Miss. Silakan.” Ryan menjawabku.
Aku bisa merasakan kegugupan menjalari diriku. Namun aku tidak bisa berhenti di sini. Aku tidak bisa mempermalukan diri sendiri lebih jauh lagi.
“Uhm, hai. Aku Lily.” Aku mengedarkan pandangan dan tatapanku terhenti pada Josh. Ia sedang memandangku dengan matanya yang tajam dan dalam. Seketika jantungku berdegup kencang. Perasaan apa ini? Aku tidak pernah berpandangan dengan laki-laki sebayaku sebelumnya, jadi aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat saat ini. Akhirnya aku mengalihkan pandangan dan mulai membuka suara lagi.
“Mungkin aku tidak mendapatkan beasiswa, aku juga bukan brand ambassador suatu brand kecantikan, atau bukan pebisnis muda yang sukses, dan bukan juga pemenang sebuah kejuaraan. Aku bukan seperti kalian yang menemukan kebahagiaan melalui pencapaian seperti yang tadi disebutkan. Aku hanyalah diriku yang menjalani kehidupannya yang membosankan—"
“Ayahku meninggal dunia dua tahun lalu. Daisy, adikku sakit leukemia dan harus menjalani rawat jalan dengan biaya yang tidak sedikit. Nenekku mulai sakit-sakitan dan pikun. Keluarga kami hampir kehabisan uang karena Mom terkena PHK dan tabungan kami terkuras habis untuk biaya pengobatan Daisy yang melonjak naik akibat sulitnya akses kesehatan sejak pandemi. Mom harus bekerja banting tulang siang dan malam membuat pastry untuk dijual ke Rustic Hotel. Sebagai anak paling tua di rumah, tentu aku tidak bisa membiarkan Mom mengurus semuanya sendirian. Hanya aku yang bisa diandalkan Mom. Mom membagi pekerjaannya sebagai baker dan perannya dalam mengurus rumah tangga kepadaku. Rasanya aku hampir tidak ingat kapan terakhir kali aku meluangkan waktu untuk diriku sendiri. Untuk menabung pengalaman dan pencapaian, untuk perlahan mengejar satu per satu mimpiku, atau hanya untuk sekedar jalan sore di taman kota sambil minum limun saat musim semi. Aku tidak tahu rasanya seperti kalian yang bisa memiliki pencapaian untuk di sendiri walaupun aku sangat ingin.” Aku berhenti sebentar untuk menarik napas dan menahan air mataku yang hampir runtuh.
“Tapi dengan semua yang kulalui, aku belajar banyak hal. Aku belajar menjadi tumpuan kedua keluargaku. Aku belajar sulitnya menemukan rasa ikhlas saat semua yang kulakukan dan kukorbankan tidak sepenuhnya berbuah manis untuk diriku sendiri. Aku belajar untuk menata perasaan dan emosi karena tidak mungkin kutunjukkan kepada keluargaku, terutama Mom. Aku belajar menghargai dan mensyukuri kebahagiaan kecil yang masih terselip di antara masa-masa sulit ini. Aku belajar bahwa akan tiba saatnya kebahagiaanmu rasanya tak ada artinya lagi saat kau bisa mengukir senyuman di wajah orang yang kau cintai. Aku belajar bahwa aku tidak harus menjadi seperti orang lain untuk menemukan tempat belajar dan menemukan kebahagiaan—"
“Kurasa dengan mempelajari itu semua aku meraih pencapaian yang berarti dalam hidupku.” Aku mengakhiri ucapanku dan menyadari bahwa orang-orang di ruangan itu sedang menatapku dengan tercengang, sebagian lagi menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Okay, next?” suara Ryan membuyarkan lamunanku.
* * *
Aku berjalan menuju pintu keluar aula saat acara itu selesai tepat pukul delapan malam.
“Hey, Lily.” Tiba-tiba seseorang dengan suara berat memanggil namaku dengan lembut.
Itu Josh. Ya Tuhan, kenapa jantungku mulai berdegup lebih kencang lagi?
“Ya?” Aku menatap Josh yang sedang memandangku dengan senyum di matanya.
“Hmm, what about some coffee?”
•Ditulis dalam kumpulan cerpen "A Journey to Discover in 2020", oleh Izzah Fajrina Afani, juara 1 dalam lomba menulis cerita pendek "Tentang 2020" yang diadakan oleh ARE Publisher.
Kalian bisa mengenal penulisnya lewat akun di bawah ini:
Email: ica.afani@gmail.com
Instagram: @icaafanii

Komentar
Posting Komentar